Powered By Blogger

Sabtu, 03 Agustus 2013

infeksi Saluran Reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang mendapat perhatian penting dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Rata-rata setiap harinya ada satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS.insiden tinggi ISR dan IMS di antara perempuan yang menjalani perawatan antenatal, kesehatan seksual dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR atau IMS yang meluas.
Diagnosis ISR/IMS pada fasilitas kesehatan bisa dilakukan berdasarkan pendekatan sindrom dengan identifikasi gejala yang spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme penginfeksi dan penilaian tentang resiko penularan.
1.2 TUJUAN
a.Tujuan umum
untuk mengetahui hubungan infeksi saluran reproduksi dengan KB.
b.Tujuan khusus
·        Untuk mengetahui pengertian infeksi saluran reproduksi dan Infeksi Menular Seksual (IMS)
·         Untuk mengetahui tipe-tipe infeksi
·         Untuk mengetahui peran petugas kesehatan pada pelayanan kontrasepsi/ kesehatan reproduksi
·         Untuk mengetahui Pelayanan kontrasepsi dapat sekaligus memberikan pelayanan terhadap ISR maupun IMS
·         Untuk mengetahui komplikasi IMS
·         Untuk mengetahui skrining atau penapisan klien
·         Untuk mengetahui diagnosis/pengobatan ISR/IMS
·         Untuk mengetahui kontrasepsi dan pencegahan IMS

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang mendapat perhatian penting dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Rata-rata setiap harinya ada satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS.insiden tinggi ISR dan IMS di antara perempuan yang menjalani perawatan antenatal, kesehatan seksual dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR atau IMS yang meluas.
            Orang yang mengalami ISR/IMS mempunyai resiko lebih tinggi tertular HIV atau menularkan HIV kepada pasangannya. Orang orang yang terinfeksi HIV pengobatan ISR atau IMS akan lebih sulit, yang berarti dalam keadaan terinfeksi serentak, akan meningkatkan kemungkinan penyebaran HIV.
Berbagai jenis mikroorganisme (± 20 jenis) dapat ditularkan melalui hubungan seks dan berdampak pada organ reproduksi seseorang.bahkan ada juga penyakit seperti infeksi Hepatitis dan AIDS yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual tetapi pada organ reproduksinya tidak mengalami kelainan.
 2.2 Tipe infeksi
Istilah ISR/IMS mencakup 4 tipe infeksi yaitu :
·         Infeksi yang merusak saluran reproduksi.
·         Infeksi pada saluran reproduksi perempuan yang tidak disebabkan karena penularan melalui hubungan seks tetapi merupakan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang normal ada dalam vagina (bakteri vaginosis dan jamur).
·         Infeksi melalui hubungan seks yang member dampak lebih luas selain alat reproduksi (sifilis dan HIV/AIDS).
·         Infeksi pada saluran reproduksi perempuan akibat komplikasi dari tindakan yang dilakukan untuk membantu kasus persalinan, keguguran dan pengguguran, insersi AKDR atau operasi obstetric ginekologi.
Beberapa jenis IMS yang banyak didapatkan di Indonesia
Ø  Gonore
Ø  Sifilis
Ø  Klamidia
Ø  Kandidiasis
Ø  Trikomoniasis
Ø  Bacterial vaginosis
Ø  Herpes simpleks
2.3 Peran petugas kesehatan pada pelayanan kontrasepsi/ kesehatan reproduksi
Banyak orang khususnya perempuan yang mengalami ISR/IMS tidak terdapat perawatan dan pengobatan yang tepat, karena :
·         Baik laki-laki atau perempuan mungkin tidak ada gejalanya. Penelitian menunjukkan 70% perempuan dan 30% laki-laki yang terinfeksi tidak mempunyai gejala.
·         Orang-orang yang menunjukkan adgejala ISR/IMS tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya terinfeksi. Banyak perempuan yang tidak mendapatkan informasi tentang cairan vagina yang normal atau tidak sehingga mereka akan menganggap cairan vagina yang keluar walaupun akibat ISR/IMS sebagai suatu yang wajar.
·         Banyak orang yang menduga bahwa mereka mungkin terinfeksi tetapi tidak segera berobat karena tidak menganggap penyakit ini penting,merasa malu, penyakit yang diderita merupakan stigma social, tidak mengetahui akses berobat dan tidak dapat menjangkau pengobatan.
2.4 Pelayanan kontrasepsi dapat sekaligus memberikan pelayanan terhadap ISR maupun IMS seperti :
·         Pendidikan tentang pencegahan IMS dan pengenalan gejala dan tanda ISR/IMS serta komplikasi IMS.
·         Konseling mengenai perilaku yang beresiko, alternative perilaku seksual yang aman, kepatuhan klien untuk berobat hingga tuntas dan perlunya pasangan klien juga ikut berobat.
·         Skrining atau penapisan ISR/IMS termasuk pemeriksaan vagina (selain dilakukan sebagai pemeriksaan rutin atau lebih ditekankan pada orang yang beresiko).
·         Pengobatan ISR/IMS.
·         Merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap.
·         Menyediakan kontrasepsi dengan perlindungan ganda (dual action) seperti kondom.

 2.5 Komplikasi IMS
Pada perempuan
Pada bayi baru lahir
Pada laki - laki
·         Radang panggul
·         Infertilitas
·         Kehamilan ektopik
·         Keguguran
·         Lahir mati
·         Kanker servik
·         AIDS
·         Hepatitis

·         Prematuritas
·         BBLR
·         Sifilis kongenital
·         Oftalmia neonaturum
·         Pneumonia klamidia
·         Septikemia
·         AIDS
·         Hepatitis

·         Epididimis
·         Prostatitis
·         Striktur uretra
·         Infertilitas
·         AIDS
·         Hepatitis

2.6 Skrining atau penapisan klien
·         Skrining klien dapat dilakukan melalui anamnesis yang cermat atau melalui konseling. Apabila memungkinkan pemeriksaan organ reproduksi dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium sederhana untuk melihat mikroorganisme yang ada (pemeriksaan duh kelamin melalui mikroskop dan pewarnaan Gram, larutan NaCl dan KOH).
·         Berikan pengobatan sesuai dengan hasil temuan mikroorganisme atau dari hasil pendekatan sindrom.
·         Selalu tanyakan pada klien adakah
o   Duh vagina atau uretra
o   Lesi atau ulkus pada alat kelamin
o   Pembengkakan pada kelenjar getah bening di daerah inguinal (selangkangan)
o   Nyeri perut bagian bawah
·         Tanyakan juga apakah pasangannya mengalami hal seperti di atas.
·         Riwayat hubungan seks seminggu sampai satu bulan terakhir.
·         Apakah klien atau pasangannya berganti pasangan dalam waktu satu bulan ini ?
·         Apakah klien atau pasangannya mempunyai aktivitas atau profesi yang menyebabkan ia berganti pasangan atau sering berpindah tempat?
·         Apakah klien menyadari bahwa ia terkena IMS dan adakah usaha yang dilakukan sebelum dating ke fasilitas ini?
Petugas kesehatan perlu membekali diri dengan ketrampilan untuk melakukan investigasi atau skrining tanpa sikap yang menghakimi dan membuat klien malu, marah, tersinggung atau tidak mau berterus terang.

2.7 Diagnosis dan pengobatan ISR/IMS
·         Diagnosis ISR/IMS pada fasilitas kesehatan bisa dilakukan berdasarkan pendekatan sindrom dengan identifikasi gejala yang spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme penginfeksi dan penilaian tentang resiko penularan.
·         Pemeriksaan duh tubuh dengan laboratorium dan pemeriksaan serologi akan sangat baik untuk mendapatkan ketepatan diagnosis dan pengobatan. Paling tidak fasilitas pelayanan kontrasepsi atau pelayanan kesehatan reproduksi mempunyai perangkat pemeriksaan laboratorium sederhana.
·         Apabila diagnosis klien meragukan dan pengobatan tidak memberikan hasil yang memuaskan, klien harus dirujuk ke fasilitas pelayanan lain yang lebih lengkap dan kemajuan penyembuhannya harus selalu dipantau.
Konseling, edukasi, pelayanan kontrasepsi dan pengobatan IMS secara terpadu merupakan bagian yang penting untuk pencegahan dan mengurangi insidens IMS

2.8 Kontrasepsi dan pencegahan IMS
Jenis kontrasepsi
keterangan
Kondom lateks
·         Merupakan metode terbaik untuk pencegahan IMS dan HIV / AIDS, bila di gunakan terus menerus dan benar
·         Tapi kondom tidak melindungi infeksi yang berasal dari ulkus atau lesi pada selangkangan yang tidak tertutup oleh kondom
Female kondom ( kondom perempuan )
·         Walaupun data klinis terbatas, kondom ini cukup efektif untuk pencegahan kontak dengan sperma maupun bakteri penyebab IMS atau HIV
·         Sebagai alternatif apabila kondom untuk laki – laki tidak ada atau tidak bisa di gunakan
·         Terbatasnya pemakaian kondom perempuan juga di sebabkan oleh faktor harga dan kurang nyaman
Spermisida
·         Tidak melindungi penularan IMS atau HIV, oleh karena itu pemakaian spermisida saja tanpa pengaman ( barrier ) lain tidak di anjurkan
Diafragma
·         Digunakan bersama dengan spermisida, dapat mengurangi transmisi IMS. Perlindungan terhadap HIV belum pernah di buktikan
·         Sebagai alternatif apabila penggunaan kondom laki – laki tidak bisa di gunakan.
Metode kontrasepsi lain
·         Seluruh metode kontrasepsi yang lain tidak dapat melindungi klien dari IMS dan HIV.
·         Perempuan yang beresiko terhadap IMS perlu menggunakan tambahan kondom di samping pemakaian metode kontrasepsi lain.


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang mendapat perhatian penting dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Rata-rata setiap harinya ada satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS.insiden tinggi ISR dan IMS di antara perempuan yang menjalani perawatan antenatal, kesehatan seksual dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR atau IMS yang meluas.
            Orang yang mengalami ISR/IMS mempunyai resiko lebih tinggi tertular HIV atau menularkan HIV kepada pasangannya. Orang orang yang terinfeksi HIV pengobatan ISR atau IMS akan lebih sulit, yang berarti dalam keadaan terinfeksi serentak, akan meningkatkan kemungkinan penyebaran HIV.
Berbagai jenis mikroorganisme (± 20 jenis) dapat ditularkan melalui hubungan seks dan berdampak pada organ reproduksi seseorang.bahkan ada juga penyakit seperti infeksi Hepatitis dan AIDS yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual tetapi pada organ reproduksinya tidak mengalami kelainan.
3.2 SARAN
Pemakalah menyadari dalam membuat makalah masih banyak kekurangan dan semoga makalah yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Bari abdul saifuddin.2010.Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi.PT Gina pustaka sarwono prawirohardjo:jakarta
2.      http//infeksi saluran reproduksi dan kaitannya dengan KB

istilah-istilah yang ada dalam pelayanan KB.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang bejudul “ ISTILAH-ISTILAH DALAM PELAYANAN KB “ ini tepat pada waktunya.
Keberhasilan dalam pembuatan makalah ini juga tak lepas dari bantuan dan bimbingan dari bebagai pihak,untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing dan juga teman-teman semua yang telah ikut berperan serta dalam pembuatan makalah ini.
Disini penulis berharap semoga dengan adanya makalah ini dapat berguna bagi orang-orang yang membacanya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini belumlah sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan pada pembuatan makalah-makalah yang selanjutnya.
 Padang, Maret 2013

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

 Keluarga Berencana merupakan salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, Pengobatan kemandulan dan penjarangan kehamilan.
Dengan demikian diharapkan:
F.        Terkendalinya tingkat kelahiran dan pertambahan penduduk
G.       Meningkatnya jumlah peserta KB atas dasar kesadaran
H.       Berkembangnya usaha-usaha yang membantu peningkatan kesejahteraan ibu dan anak, perpanjangan usia harapan hidup, menurunnya tingkat kematian bayidan balita, serta kematian pada masa kelahiran dan persalinan.

Tujuan utama program KB adalah untuk memenuhi perintah masyarakat akan pelayanan KB dan kesahatan reproduksi yang berkwalitas, menurunkan tingkat/angka kematian ibu bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi alam dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas. Tujuan program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas adalah untuk membina kemandirian dan sekaligus meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, serta pemberdayaan dan ketahanan keluarga terutama yang diselenggarakan oleh industri masyarakat di daeah perkotaan dan pedesaan sehingga membudidaya dan melembaganya keluarga kecil berkwalitas.
Perkembangan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional telah menumbuhkan berbagai istilah baru dalam operasional Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Untuk itu kami sebagai anggota kelompok mencoba untuk mebuat suatu makalah yang berisikan istilah-istilah yang ada dalam pelayanan KB.
Munculnya berbagai istilah tersebut didorong oleh adanya kebutuhan dari berbagai kalangan baik dari Para Pengelola dan Pelaksana Program di lingkungan instansi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Instansi/Institusi di luar BKKBN, maupun masyarakat lainnya, untuk mengetahui, mengerti dan memahami istilah yang ada.
B.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
a.       Untuk mengetahui istilah-istilah yang ada dalam pelayanan KB.
b.      Untuk menambah wawasan penulis dan pembaca mengenai istilah-istilah yg ada dalam pelayanan KB.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Pelayanan KB.
b.      Untuk lebih meningkatkan pemahaman mengenai istilah yg digunakan dalam Pelayanan KB.
c.       Untuk memudahkan kita dalam memberikan konseling Kb kepada Akseptor dengan mengetahui istilah-istilah yang ada dalam Pelayanan KB.
d.      Untuk melihat gambaran hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang Kb dengan istilah-istilah yang ada dalam Pelayanan KB.
C.    Rumusan Masalah
a.       Istilah-istilah apa saja yang ada dalam pelayanan KB?
b.      Apa saja pembagian atau jenis-jenis dari istilah yang ada dalam Pelayanan kebidanan ?
D.    Manfaat
a.       Sebagai informasi bagi pembaca mengenai istilah-istilah yang ada dalam pelayanan KB.
b.      Memahami tentang istilah-istilah yang ada dalam Pelayanan KB.
c.       Memahami dan mampu memberikan pelayanan KB yang tepat kepada para pengguna Kontrasepsi.





BAB II
PEMBAHASAN
Istilah-Istilah Yang Ada Didalam Pelayanan KB Diantaranya Adalah :

1.              Akseptor
Akseptor adalah Peserta KB , yaitu pasangan usia subur ( PUS ) yang menggunakan salah satu alat / obat kontrasepsi.
Akseptor KB terbagi menjadi :
a.       Akseptor Aktif
Akseptor aktif yaitu pasangan Usia Subur yang pada saat ini sedang menggunakan salah satu alat/obat kontrasepsi.
b.      Akseptor Baru
Akseptor Baru yaitu Pasangan Usia Subur yang baru pertama kali menggunakan alat/obat kontrasepsi atau PUS yang kembali menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan atau abortus.
c.       Akseptor Dini
Akseptor Dini yaitu Para Ibu yang menerima salah satu cara kontrasepsi dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan atau abortus.
d.      Akseptor Dropout
Akseptor Dropout yaitu Akseptor yang menghentikan pemakaian kontrasepsi lebih dari 3 bulan.
e.       Akseptor Langsung
Akseptor Langsung yaitu Para Istri yang memakai salah satu cara kontrasepsi dalam waktu 40 hari setelah melahirkan atau abortus.
f.       Akseptor Lestari
Akseptor Lestari  yaitu Akseptor yang menggunakan alat kontrasepsi secara terus menerus dalam waktu sekurang-kurangnya 5 tahun.

2.        Alat Kontrasepsi
Alat Kontrasepsi adalah Alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan.


Jenis-jenis Alat kontrasepsi :
a.      Alat Kontrasepsi Bawah Kulit
Alat Kontrasepsi Bawah Kulit yaitu Alat kontrasepsi yang disusupkan atau ditanam di bawah kulit. Yang beredar di Indonesia antara lain: Norplant, Implanon, Indoplan, Sinoplan dan Jadena.
o   Implanon
Yaitu Susuk KB satu batang - Alat kontrasepsi yang ditanam di bawah kulit (susuk KB).
o   Implant / Norplant
Yaitu Alat kontrasepsi yang ditanam di bawah kulit (susuk KB).
b.      Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR )
~ Intra Uterine Device (IUD),
Adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim, terbuat dari plastik halus dan fleksibel (polietilin).
Jenisnya antara lain:
o   Lippes Loop, Berbentuk spiral, ukurannya ada tiga macam: kecil, sedang dan besar.
o   Copper T (CuT-380A) berukuran kecil, kerangka dari plastik yang fleksibel, berbentuk huruf T diselubungi dengan kawat halus yang terbuat dari tembaga (Cu).
o   Jenis lain yang beredar di Indonesia antara lain Multiload (ML Cu 250 dan 375), dan NOVA T.

3.         Kontrasepsi
Yaitu Obat/alat untuk mencegah terjadinya konsepsi (kehamilan). Jenis kontrasepsi ada dua macam, yaitu kontrasepsi yang mengandung hormonal (pil, suntik dan implant) dan kontrasepsi non-hormonal (IUD, Kondom).
a.      Kontrasepsi Alamiah
Adalah Cara-cara ber KB tidak dengan menggunakan alat/obat kontrasepsi modern.
Seperti :
·         Metode kalender
Menggunakan prinsip pantang berkala, dengan tidak melakukan hubungan seksual pada masa subur istri.
·         Metode pantang berkala
Juga dg tidak melakukan hubungan seksual pada masa subur istri.
·      Metode Suhu basal
·      Metode Lendir Serviks
·      Metode Simptom Termal
·      Koitus Interuptus.

4.      Kontrasepsi pil Progestin ( minipil )
Yaitu Kontrasepsi yang diberikan secara oral dalam bentuk pil yang mengandung hormon progestin atau dikenal dengan istilah minipil. Minipil sangat dianjurkan bagi ibu menyusui bayinya sampai 6 bulan karena tidak menghambat produksi ASI. Minipil juga dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat. Efek samping yang biasanya terjadi diantaranya gangguan perdarahan, perdarahan bercak, atau perdarahan tidak teratur. 

5.      Kontrasepsi Mantap
Yaitu Metode operasi wanita (tubektomi) atau metode operasi pria (vasektomi).

6.      Kontrasepsi pasca keguguran
Yaitu Program pelayanan kotrasepsi khusus bagi yang baru saja mengalami keguguran, perlu segera diberikan karena ovulasi dapat terjadi sebelas hari sesudah terapi keguguran/abortus sebelum haid berikutnya.

7.      Metoda Kontrasepsi
Metode kontrasepsi adalah Cara/ alat untuk menjarangkan atau mencegah terjadinya konsepsi.
a.      Metoda Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET)
Metoda Kontrasepsi Efektif Terpilih (Mket) Yaitu AKDR (IUD) Implant (Norplant/susuk KB) dan kontap (vasektomi, Tubektomi).
b.      Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Metode kontrapsesi jangka panjang (yaitu : IUD, Implant/susuk KB, Medis operasi pria dan wanita )
c.       Metode Amenorea Laktasi (MAL)
                   Metode kontrasepsi dengan mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya.

d.      Metoda Kontrasepsi Pria
                   Cara untuk menjarakan atau menjegah terjadinya konsepsi yang di khusus digunakan oleh pria, misalnya : kondom

Istilah-Istilah Lain Yang Ada Dalam Pelayanan KB :
1.      Angka Kegagalan Kontrasepsi
Angka yang menunjukkan banyaknya akseptor yang menjadi hamil pada saat masih menggunakan alat kontrasepsi.
2.      Angka Kegagalan Spiral
Angka yang menunjukkan banyaknya peserta KB aktif yang menggunakan IUD/AKDR yang menjadi hamil.
3.      Angka Kelangsungan (Continuation Rate)
Angka yang menunjukkan proporsi akseptor yang masih menggunakan alat kontrasepsi setelah suatu periode pemakaian tertentu.
4.      Angka Kelangsungan Kontrasepsi (Contraceptive Continuation Rate / CCR)
Proporsi pengguna alat/cara KB yang masih menggunakan alat/cara KB tertentu setelah suatu periode terpapar, misalnya satu tahun (12 bulan), terhadap risiko tidak meneruskan penggunaan.
5.      Angka Kemantapan Spiral
Angka yang menunjukkan banyaknya spiral yang telah dipasang dan masih ada dalam rahim (insitu) setelah waktu tertentu sesudah pemasangan. Angka ini lebih rendah dari angka kelangsungan pemakaian untuk spiral karena angka kemantapan tidak termasuk spiral yang dipasang kembali karena spiral keluar sendiri.
6.      Angka Ketidaklangsungan Kontrasepsi (CDCR)
Proporsi pengguna alat/cara KB yang tidak meneruskan suatu episode penggunaan alat/cara KB tertentu setelah suatu periode terpapar (exposure) karena berbagai alasan, seperti kegagalan atau mengalami efek samping.
7.      Angka Prevalensi Kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR)
Persentase pasangan usia subur (PUS) yang sedang menggunakan alat/cara KB. Rumusnya adalah:
Jumlah PUS yang sedang ber KB
CPR =                                                             X 100
Jumlah PUS
8.      Efek Sampingan Kontraseps
Adalah perubahan sistem, alat dan fungsi tubuh yang timbul akibat dari penggunaan alat atau kontrasepsi dan tidak berpengaruh serius terhadap klien. Contoh:
a.         Kondom, reaksi alergi, mengurangi kenikmatan hubungan seksual
b.         Oral pil, muntah, pusing kepala, nafsu makan bertambah, lesu lemah tidak bersemangat dalam bekerja, penurunan ASI, tekanan darah tinggi, perubahan berat badan, jerawat, bercak cokelat pada wajah (hyper pegmentasi), varises, keputihan, gangguan haid.
c.         Suntik tidak datang haid (amenorea), pertambahan berat badan, sakit kepala, nyeri pinggul, tekanan darah tinggi.
d.        Implant, "hilang" tidak teraba, nyeri dada, pendarahan, bercak, nyeri kepala, mual/pusing/gelisah, berat badan bertambah/berkurang.
e.         AKDR, pendarahan, gangguan haid, demam, menggigil, cairan vagina yang banyak.
f.           Vasektomi, perdarahan sedikit membasahi plester penutup luka, nyeri didaerah luka, gatal di kulit disertai bentol bentol.
9.      Efektifitas Penggunaan Alat Kontrasepsi
            Dipakai dalam arti efektifitas klinik, yaitu pengaruh suatu cara kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
10.  Filamen AKDR
Benang pada alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) sehingga alat kontrasepsi itu mudah dikontrol dan diangkat bila diperlukan.
11.  Implant Kit
Suatu alat yang digunakan untuk memasang dan mencabut Implant.
12.  Insersi AKDR
Proses memasukkan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim/IUD) ke dalam rongga rahim, dengan menggunakan alat berbentuk tabung.
13.  IUD KIT
Suatu alat yang digunakan untuk memasang dan mencabut IUD.
14.  IUD Retention
Presentasi kemantapan pemakaian AKDR/IUD setelah periode tertentu.
15.  IUD SASI
Menggalakan pemakaian AKDR/IUD dalam rangka menunjang usaha penerimaan kontrasepsi yang efektif dan murah

16.  Kondom (KARET KB)
Salah satu alat kontrasepsi yg terbuat dari karet ( lateks ) berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi  kantung untuk menampung sperma yg dikeluarkan pria disaat bersenggama sehingga tidak tercurah kedalam vagina.
17.  Pelayanan Kontrasepsi
Suatu kegiatan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh unit pelaksana KB, baik pemerintah maupun swasta, misalnya kegiatan pemasangan IUD oleh PUSKESMAS, pemberian pil oleh PPKBD kepada peserta KB.
18.  Pil KB
Tablet yang diminum untuk mencegah kehamilan, mengandung hormon estrogen dan progesteron sintetik, disebut juga sebagai pil kombinasi, sedangkan jika hanya mengandung progesteron sintetik saja disebut Mini Pil atau Pil Progestin.
19.  PLKB/PKB Lulusan Bidan
Penyuluh Lapangan KB yang berpendidikan Sekolah Perawatan Bidan
20.  Pus Bukan Peserta Kb "Ingin Anak Ditunda"
Pasangan usia subur yang sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi karena menginginkan kelahiran anak ditunda dengan batas waktu dua tahun lebih.
21.   Pus Bukan Peserta Kb "Ingin Anak Segera"
Pasangan usia subur yang sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi karena menginginkan kelahiran anak dengan batas waktu dua tahun.
22.  Pus Bukan Peserta Kb "Tidak Ingin Anak Lagi"
Pasangan usia subur yang sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi padahal PUS yang bersangkutan sudah tidak ingin anak lagi.



BAB III
PENUTUP
A.            Kesimpulan
Perkembangan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional telah menumbuhkan berbagai istilah baru dalam operasional Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
Ada banyak istilah yang terdapat dalam pelayanan KB, seperti Akseptor, kontrasepsi, Alat kontrasepsi dalam rahim ( AKDR ), alat kontrasepsi dibawah kulit serta terdapat juga bermacam-macam metoda dalam penggunaan kontrasepsi.
B.                 Saran
            Dengan berkembangnya lingkungan strategis Program Kependudukan dan Keluaraga berencana yang menimbulkan banyak istilah kita sebagai tenaga kesehatan harus mampu memahami dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang akan datang, untuk itu semoga dengan adanya makalah yang berjudul Istilah-istilah dalam pelayanan KB ini bisa dijadikan suatu wadah untuk mendapatkan ilmu.
            Selain itu pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis berharap pembaca bisa memberikan kritik dan sarannya demi untuk kesempurnaan makalah ini.

Daftar Pustaka

Sulistyawati, Ari. 2013. Pelayanan Keluarga Berencana. Salemba Medika ; Jakarta
Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Edisi 2 tahun 2010.
Kamus Istilah Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional ( Direktorat Teknologi Imformasi Dan Dokumentasi Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional) Tahun 2011